SATU JIWA
Selamat pagi sahabat,
semoga tuhan memberikan selalu kesehatan.Apa kabarnya hari ini?
Semoga selalu sehat, amiin..
Sabtu pagi,seketika aku beranjak dari kematian semu yang dibalut cerita indah alam mimpi.
seakan pagi mulai menjemput untuk berkeringat menjalani hari.Setiap hari,rutinitas begitu penuh tantangan.Apakah ini yang dinamakan kehidupan,seketika umurmu bertambah 24 Jam setiap harinya, beberapa hari saja semua akan lenyap, teman, keluarga,kesehatan,Semuanya.
Bukti kalau hidup hanya titipan dari sang Pencipta.
Pernahkah kita berpikir,untuk apa kita hidup?.Penulis melakukan hal yang sama,ketika bangun,beraktifitas kembali,bersosialisasi,menyendiri,semuanya terasa kompleks,membuat pikiran selalu bertanya-tanya kapan semua akan berakhir.Sesekali menyendiri juga jadi suatu Opsi menaklukkan hantaman beban pikiran.Ku kurung diri ini untuk melewati Jenuhnya perasaan.sesekali Penulis juga berjalan sendirian dikeramaian.dan apakah kamu sadar,Penulis benar-benar sendirian! tidak ada yang istimewa, sapaan bisu berada disekitarku.Jadi apa salahnya ketika kita tak mendengar harapan yang disampaikan.Jujur Penulis tidak mendengar.
Sesekali kuhujani pikiranku dengan kemarahan,akhirnya beberapa orang terluka dengan sangat dalam.Namun, mereka juga akhirnya membalasnya.dan aku bahagia,karna itu semacam hukuman dari sang Dewa.Perlahan tapi pasti akhirnya mereka menghilang satu persatu, dan akupun menerimanya,karna ini bagian dari takdir.Ahhh.. Takdir? semacam dagelan kuno yang masih sering dipercaya.Aku hampir tak percaya takdir,karna hidup sudah menemukan jawabannya masing-masing.
anggap saja ini hukuman atas tindakan.
Siapa sangka aku tak benar-benar menyala dipenghujung senja.Aku memilih mati sejenak untuk mengisi harmoni pikiranku.Setelah itu aku akan kembali menyapa dunia yang kadang tak seramah dulu.Siapa sangka, inilah hidup,hidup yang katanya benar-benar hidup,atau yang sebenarnya membuatmu benar-benar mati.Entahlah... Sejenak kuluapkan sedikit kesedihan dalam kesendirian,kusapa dia yang benar-benar lelah, lelah menerima pikiranku.Aku, Dia, yang sebenarnya hanya satu,mirip seperti aku menyapa mu diruang kosong yang memiliki satu Jiwa, jiwa yang kau panggil,atau jiwa yang memanggilmu.Seperti itulah.
Win.Kun
Komentar
Posting Komentar